Senin, 21 November 2016

Eniya, Buka Akses ke Kota Hidrogen

Eniya, Buka Akses ke Kota Hidrogen



Selama belajar 10 tahun hingga memperoleh gelar doktor di Jepang, 1993-2003, inspirasi puncak Eniya Listiani Dewi meretas jalan menuju ”kota hidrogen” di Indonesia, seperti tahun 2003 saat Jepang mulai mewujudkannya di kota industri otomotif, Fukuoka.

Eniya berhasil membuka jalan ke kota hidrogen setelah memproduksi ”jantung” sel bahan bakar hidrogen dengan komponen lokal 80 persen sehingga harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan pasaran di Asia kini. Masyarakat Ilmu Polimer Jepang memberinya penghargaan atas temuan tersebut dalam simposium internasional di Kobe, 29 Mei 2009 lalu. Sebanyak 4.000 ahli polimer dari berbagai penjuru dunia diundang menghadiri kegiatan itu.

Namun, pemberangkatan Eniya dan semua peserta yang lain kemudian dicegah karena saat itu Kobe terserang pandemi flu A-H1N1. Simposium dibatalkan. Simbol anugerah dikirimkan ke Indonesia dan diterima Eniya akhir Juni 2009.

”Justru masyarakat Jepang lebih dulu menghargai temuan hasil riset tim kami,” ujar Eniya, Kepala Perekayasaan Fuel Cell atau Sel Bahan Bakar pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Eniya, putri pertama dari dua bersaudara pasangan Hariyono (almarhum) dan Sri Ningsih, asal Magelang, Jawa Tengah, ini meraih banyak penghargaan di bidangnya.

Memulai dari Akhir


Memahami kota hidrogen mencakup pemenuhan kebutuhan energi masyarakat kota secara ramah lingkungan. Tujuannya, melanggengkan kehidupan kota tanpa risiko pencemaran karena sel bahan bakar hidrogen menghasilkan energi tanpa mengemisi karbon dan limbahnya hanya air dan panas.

Aplikasi sel bahan bakar untuk kota hidrogen bertujuan memenuhi kebutuhan rumah tangga, mulai dari penerangan, memasak, sampai kendaraan. Jadi, knalpot kendaraan tak mengepulkan asap, tetapi mengucurkan air murni.

Menurut Eniya, Jepang membuat simulasi kota hidrogen dengan membagikan generator sel bahan bakar berkapasitas 1.000 watt-2.000 watt kepada 2.000 keluarga di Fukuoka untuk penggunaan cuma-cuma selama lima tahun. Disediakan pula angkutan umum bus dengan bahan bakar hidrogen yang ramah lingkungan.

Keinginannya mewujudkan kota hidrogen di Indonesia memang terkesan tak mungkin. Di balik itu Eniya mengungkap spirit dari teknokrat BJ Habibie dalam teknik berinovasi, yaitu start from the end atau memulai dari yang terakhir.

Kenangan akan Habibie terus mengendap karena Eniya berhasil mewujudkan keinginannya sejak kecil untuk studi di luar negeri berkat kebijakan Habibie era 1990-an. Saat itu, Kementerian Negara Riset dan Teknologi di bawah Habibie memberi beasiswa bagi lulusan SMA berprestasi untuk melanjutkan studi ke berbagai negara industri. Ia terpilih menjadi salah satu penerima beasiswa dalam program Science and Technology Advance Industrial Development (STAID) Kementerian Negara Riset dan Teknologi.

Eniya menyelesaikan S-1 di Universitas Waseda, Tokyo, hingga memperoleh gelar doktor (S-3) pada Fakultas Aplikasi Kimiawi, Polimer, Katalis, dan Sel Bahan Bakar. Teknologi sel bahan bakar termasuk the end atau bagian akhir pengembangan teknologi mutakhir menyongsong peradaban ramah lingkungan dalam pemenuhan energi dengan sumber energi tak terbatas, seperti air sebagai sumber hidrogen.

Menurut Eniya, metode produksi hidrogen, selain proses elektrolisis dari air, dapat pula ditempuh seperti di Fukuoka, yakni mengubah metana dari berbagai bahan bakar gas, termasuk biogas menjadi hidrogen.

Memupuk Harapan

Seperti para periset dan perekayasa lain, Eniya berharap ada investor yang mampu mengaplikasikan temuannya untuk pengembangan sel bahan bakar secara kompetitif. Ia membuka secara transparan, bagaimana mengganti komponen ”jantung” sel bahan bakar impor dari AS atau Jepang dengan komponen-komponen lokal.

Manufaktur generator sel bahan bakar dengan komponen lokal sudah diuji menurunkan 80 persen harga dari pasaran Asia. Substitusinya antara lain pada material katalis elektrode sel bahan bakar impor dengan logam platina, yang berharga jauh lebih mahal, diganti komponen lokal vanadium yang fungsi dan keandalannya tak jauh beda.

Penggunaan nafion pada polimer elektrolit sel bahan bakar impor seharga 1.000 dollar AS (sekitar Rp 10 juta) per meter persegi disubstitusi proses sintesis hidrokarbon polimer nanosilika berharga Rp 1,5 juta per meter persegi, atau berkurang 85 persen. Substitusi material impor juga untuk komponen lain sel bahan bakar yang dirangkai berurutan membentuk lapisan stack fuel cell atau generator sel bahan bakar.

Komponen itu meliputi end-plate, current collector, graphite bipolar-plate, dan membrane electrode assembly (MEA) sebagai ”jantung” sel bahan bakar. Rangkaian stack fuel cell impor (tanpa MEA) senilai Rp 23,95 juta bisa diturunkan menjadi Rp 5 juta.

”Untuk mengaplikasikan temuan ini, saya berpijak pada upaya memproduksi listrik permukiman dengan sumber hidrogen yang menyesuaikan sumber daya setempat. Aplikasi untuk sistem transportasi bisa menyesuaikan kemudian,” ujar Eniya. (sumber)


Baca Artikel Pebisnis Akademik Lainnya

Jumat, 18 November 2016

Yanuar, Peraih "Hallsworth Fellowship Award"

Yanuar, Peraih "Hallsworth Fellowship Award"




Akhir 2009 lalu, Dr Yanuar Nugroho didapuk gelar sebagai Staf Akademik Terbaik di Manchester Business School, Universitas Manchester, Inggris. Tahun ini, dosen dan peneliti di Manchester Institute of Innovation Research, Manchester Business School, Universitas Manchester, Inggris, itu meraih "Hallsworth Fellowship Award", yaitu salah satu penghargaan internasional bergengsi di bidang ekonomi dan politik di Inggris.

Yanuar merupakan satu-satunya dari kawasan Asia yang menerima penghargaan itu. Dalam keterangan persnya di London, bulan lalu, ia mengatakan, penghargaan itu adalah pengakuan dari komunitas akademik atas semua yang dikerjakan selama ini.

"Apa yang saya teliti, saya tulis, saya sampaikan, dan saya bicarakan dalam berbagai kesempatan, termasuk di Indonesia, semoga menjadi inspirasi dan semangat bagi para peneliti Indonesia lainnya," ujarnya.

Menurut dia, pengembangan studi ekonomi-politik berdampak besar pada perkembangan masyarakat karena menyangkut kerja ekonomi, konsekuensi sosial dari aktivitas ekonomi, serta tindakan pemerintah mempengaruhi kinerja ekonomi dan struktur institusional dari pemerintah.

"Selama lebih dari dua dasawarsa terakhir ini Hallsworth Fellowship cukup bergengsi di dunia dan menarik minat para peneliti, namun yang menerimanya harus melakukan penelitian di Universitas Manchester," tutur Yanuar.

Kajiannya tentang inovasi di sektor ketiga, yaitu non-pemerintah, non-bisnis, dilakukannya di Manchester Business School. Kajian tersebut dipandang oleh Komite Hallsworth mempunyai dampak besar terhadap ekonomi-politik di negara berkembang maupun di negara maju.

"Hallsworth Fellowship Award" merupakan skema penghargaan dan pengakuan atas capaian akademik yang dirintis Profesor H M Hallsworth tahun 1944 untuk mengembangkan studi ekonomi-politik. Berdasarkan catatan Universitas Manchester, Yanuar adalah warga Asia Tenggara pertama yang menerima "Hallsworth Fellowship Award" sejak diberikan pertama kali pada 1944 silam.

Tahun ini, lebih dari 400 kandidat "Hallsworth Fellowship Award" datang dari seluruh penjuru dunia, termasuk Kanada, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara di Eropa termasuk Inggris. Pada umumnya, penerima penghargaan tersebut berasal dari negara-negara maju. Laksana "bintang baru", pada 2010 inilah kali pertama penghargaan tersebut jatuh ke tangan seorang peneliti dari negara berkembang seperti Indonesia.

Tercatat, selama di Manchester sampai saat ini, Yanuar telah terlibat dalam lebih dari 17 penelitian yang didanai oleh Dewan Riset Eropa, Dewan Riset Inggris, dan Dirjen Riset Uni Eropa. Kajian-kajiannya banyak berfokus pada bidang inovasi dan keberlanjutan (Innovation and Sustainability).

Tidak mengherankan, beberapa tahun terakhir ini ia kerap ditunjuk menjadi fasilitator dalam perumusan kebijakan sains dan teknologi di beberapa negara anggota Uni Eropa. Seperti pada Senin (12/7/2010) pekan lalu, ia menjadi salah satu pembicara seminar Moving Towards A Capable Nation Through Innovation, Multi-Perspectives from Enterpreneur, Academican, and Government di Prasetiya Mulya Business School, Jakarta.

Alumnus dari Fakultas Teknik Industri ITB ini pun telah memublikasikan gagasan-gagasannya di sejumlah jurnal internasional, menyampaikan presentasi di berbagai konferensi internasional dan menjadi dosen tamu di sejumlah perguruan tinggi bergengsi seperti di Oxford dan Cambridge.

Terhitung, selama di Indonesia dalam kurun 1994-2004, Yanuar tercatat aktif di sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi masyarakat sipil seperti ELSPPAT (Bogor), Uni Sosial Demokrat (Jakarta), dan Business Watch Indonesia (Solo). Kemudian sejak 2008, Yanuar menjadi peneliti di Universitas Manchester.

Setelah bekerja di Universitas Manchester, penghargaan sebagai Staf Akademik Terbaik pada akhir 2009 lalu itu memberinya "kenaikan pangkat" luar biasa dari level associate ke level fellow. Yanuar mengungkapkan, akan menggunakan dana riset dari fellowship itu untuk meneruskan penelitian yang sudah dimulai dan dikerjakannya selama ini.

Yanuar merintis kajian-kajian tentang inovasi sektor ketiga itu sejak ia mengerjakan disertasi doktoralnya pada 2004 lalu, yaitu tentang organisasi masyarakat sipil di Indonesia yang berinovasi dalam gerakannya melalui penggunaan internet untuk demokratisasi. Intisari gagasan penelitian itu diteruskannya hingga saat ini.

Tak hanya sektor ketiga di Indonesia, Yanuar juga melakukan kajiannya di Eropa dengan gagasan berupa "Penanaman Kembali Inovasi pada Konteks Sosial yang Konkrit" (re-embedding innovation into it's real societal contexts).

Pada penelitian itu, ia menunjukkan pada Komite Hallsworth, bahwa studi inovasi yang umumnya dilihat dan dikaji secara sangat teknis dan terbatas dari kacamata studi sains dan teknologi, ekonomi dan sosiologi, ternyata berimplikasi ekonomi-politik yang sedemikian luas. Penelitian dan kajian akademik di bidang itulah yang membuat Yanuar digelari penghargaan sebagai Staf Akademik Terbaik di Manchester Business School, akhir 2009 lalu. (sumber)


Baca Artikel Pebisnis Akademik Lainnya

Selasa, 15 November 2016

Firmanzah, Guru Besar Termuda

Firmanzah, Guru Besar Termuda



Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) Firmanzah, kemarin (18/8) resmi dikukuhkan sebagai guru besar tetap dalam bidang ilmu manajemen stratejik. Pria 34 tahun itu merupakan dekan termuda dalam sejarah UI dan kini menjadi guru besar termuda.

Dalam pengukuhannya, pria kelahiran Surabaya, 7 Juli 1976, tersebut menyampaikan pidato berjudul "Coordination-Capability dan Daya Saing Nasional: Peran Boundary-Spanner dalam Perspektif Struktural-Interaksionisme." Mantan kepala Kantor Humas dan Protokol UI itu lulus dari Jurusan Manajemen FE UI pada 1998.

Setelah setahun bekerja sebagai analis pasar di sebuah perusahaan asuransi, pria yang akrab dipanggil Fiz tersebut melanjutkan studi ke Program Magister UI dan Universitas Pierre Mendes-Grenoble di Prancis. "Ketika mendapatkan beasiswa ke Prancis, itu merupakan perjalanan pertama saya ke luar negeri dan kali pertama pula naik pesawat," kenangnya.

Karena lulus tercepat di angkatannya, Fiz lantas mendapatkan beasiswa program doktoral dalam bidang manajemen stratejik internasional dari University of Pau et Pays de l" Adour dan meraih PhD pada 2005.

Fiz mengajar selama setahun di almamaternya tersebut sebelum dipanggil pulang untuk mengajar di UI oleh Prof Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, dekan FE UI saat itu. Tiga tahun berikutnya, Fiz menggantikan Bambang sebagai dekan FE UI. Dia mengalahkan sejumlah kandidat kuat, seperti Prof Sidharta Utama PhD CFA dan Dr Nining Soesilo (kakak kandung mantan Menkeu Sri Mulyani Indrawati).

Dalam pidatonya, pria yang dibesarkan single mom sejak usia dua tahun itu menekankan pentingnya penataan hubungan kelembagaan, baik di lembaga tingkat nasional, daerah, maupun industri. "Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang berperan sebagai boundary-spanner untuk berinteraksi dengan yang lain dalam membangun keterkaitan, komunikasi, dan kerja sama kelembagaan," tutur suami Ratna Indraswari tersebut. (sumber)


Baca Artikel Pebisnis Lainnya di Ayopreneur